iklan

Sabtu, 10 September 2011

Perayaan Hari Jadi Kota Tidore ke 903


Suasana Kota Tidore Kepulauan di Senin (11/4) malam hingga Selasa (12/4) dini hari tidak seperti biasanya. Sejak Senin pukul 19.00, suasana kota gelap gulita, padahal pihak PT. PLN tidak melakukan pemadaman penerangan lampu listrik. Yang terlihat hanyalah nyala dama atau obor di depan-depan rumah warga, di tepi jalan bahkan di tengah-tengah jalan.



Alunan syahdu takbiran, tadarusan Qur’an, dzikir dan do’a, terdengar merdu dari menara-menara masjid, mushallah, surau, fola-fola sou bahkan dari balik sejumlah rumah-rumah penduduk yang gelap-gulita sejak pukul 20.00 WIT hingga pukul 02.00 dinihari. Hingga Selasa pagi pukul 06.00, suasana kota masih tetap gelap. Ribuan anak-anak dan orang dewasa lainnya memadati jalan-jalan utama, jalan desa dan lorong-lorong membawakan obor baik secara perorangan maupun secara berombongan. Ribuan warga lainnya mengenakan pakaian serba putih, ada lagi yang menggunakan pakaian adat dengan ikat kepala sambil membawa obor, bendera merah putih dan lambang-lambang Paji Kesultanan Tidore.
Suasana malam yang tenang, syahdu dan meriah tersebut merupakan sebagian dari prosesi ritual adat Malam Setanggi Timur dan Paji Dama Nyili yang digelar Pemerintah Daerah Kota Tidore Kepulauan, Kesultanan Tidore dan Panitia Pelaksana menjelang Hari Kota Tidore yang jatuh pada Selasa (12/4).
Usai menggelar upacara penyambutan tamu dan undangan dari luar kota yang akan menghadiri upacara Adat Hari Jadi Kota Tidore ke 903, di kediaman walikota Senin malam, Walikota H. Achmad Mahifa, Wakil Walikota Drs. Hamid Muhammad, unsur Muspida dan undangan lainya sekitar pukul 20.30 menuju ke Kedaton Kesultanan Tidore. Di sana sudah menunggu para bobato adat, imam dan syara yang siap menggelar tahlilan atau doa bersama di lantai dua kedaton.
Sekitar 40 menit berjalan, Sadaha Kesultanan Tidore, H. Laiman Saleh mewakili sultan dan Walikota H. Achmad Mahifa, turun ke lantai satu kedaton dan menyerahkan secara simbolis puluhan paji atau bendera kebesaran Kesultanan Tidore kepada para perwakilan adat untuk dibawah ke Kelurahan Rum, Kecamatan Tidore Utara dan ke Cobo, Kecamatan Tidore Timur. Setelah dilakukan prosesi adat di dua tempat tersebut, paji dama nyli-nyili atau obor negeri-negeri diarak dari kelurahan ke kelurahan.
Hal serupa juga dilakukan oleh masyarakat adat Soa Romtoha Tomayou, Kelurahan Gurabunga hingga Selasa dinihari. Di lokasi yang berbeda, sekitar  pukul 06.00, masyarakat adat Gamrange, sebutan untuk Weda, Patani, Maba, bersama pasukan adat dari wilayah Oba Selatan, Oba, Oba Tengah dan Oba Utara, dan Mare, bergerak dari Pulau Mare melewati lautan. Empat titik perjalanan Paji Dama Nyili-nyili tersebut bertemu secara serentak diantara Kedaton dan Dermaga Kesultanan Tidore dan diterima melalui prosesi adat oleh Jojau atau Perdana Menteri Kesultanan Tidore, H. Ridwan Do Taher dan Wakil Walikota Drs. Hamid Muhammad sebelum diarak masuk ke tempat berlangsungnya upacara adat di halaman Kedaton Kesultanan Tidore.
Antusias masyarakat selama berlangsungnya Malam Setanggi Timur dan Paji Dama Nyili-nyili sangat tinggi. Meskipun berlangsung hingga dini hari tetapi ribuan orang terlihat menyambut arak-arakan obor dan paji penuh semangat.

Upacara Adat
Pagi harinya berlangsung upacara adat Hari Jadi Kota Tidore ke 903 di halaman Kedaton Kesultanan. Upacara itu berlangsung penuh hikmad. Bertindak sebagai inspektur upacara yaitu Jojau atau Perdana Menteri Kesultanan Tidore, H. Ridwan Do Taher, mewakili Sultan, perwira upacara dijabat Mulyadi Wowor dan komandan upacara, Bakri Do Ali Upacara diawali dengan pembacaan Sejarah Singkat Hari Jadi Tidore oleh Ngofa Sedano Soa Romtoha Tomayou, Abbas Mahmud, yang juga Kabag Organisasi.
Gerimis sempat datang ketika upacara Inspektur Upacara, Jojau, H. Ridwan Do. Taher, menyampaikan Borero Gosimo atau Amanat Datuk Moyang. Namun itu tidak menghalangi jalannya upacara.  ”Ketika pesan (Borero Gosimo) dibacakan, tiba-tiba mendung dan kembali terang setelah selesai. Ini menunjukan bahwa alam juga turut menyambut dan merestui upacara adat Hari Jadi Kota Tidore Ke 903 pada hari ini,” terang Wakil Gubernur Maluku Utara, KH. Abdul Gani Kasuba, ketika menyampaikan pesan-pesan Hari Jadi Kota Tidore dari atas mimbar upacara.
Orang nomor dua di Propinsi Maluku Utara ini juga mengaku terharu dan meneteskan air mata ketika mendengar dan menyimak secara seksama amanat datuk moyang yang syarat makna tersebut. Para pejabat dan peserta upacara lainnya juga larut dalam keharuan.
Setali tiga uang dengan Wagub Maluku Utara,  Puteri Raja Fak-Fak, Papua Barat, Hj. Rustuti Rumagesam, yang ikut dalam upacara adat tersebut juga tidak bisa menyimpan haru bercampur kagum. “Saya terharu mengikuti upacara adat ini. Kami selaku orang Papua bangga melihat dari dekat napak tilas Kesultanan dan kedatangan Soekarno  di Tidore di masa silam,” akui Hj. Rustuti.
Memang, acara Hari Jadi Kota Todore itu dihadiri oleh berbagai kalangan. Hadir saat itu  Kepala Arsip Nasional RI, Muhammad Asikin bersama delapan orang deputi, kasubdit dan staf, Kasubdit Wilayah V Maluku, Maluku Utara dan Papua, Direktorat Promosi Dalam Negeri, Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata RI, Ny. Dia Wiadiati Kusmawardani, Bupati Raja Ampat yang diwakili salah sati staf ahli bupati, Puteri Raja Fak-Fak, Hj. Rustuti Rumagesam, Walikota Ternate Burhan Abdurahman, Wakil Bupati Halbar Husen Fatah dan lainnya.
Dalam pesannya kepada masyarakat  Walikota Drs. H. Achmad Mahifa meminta kepada warga Kota Tidore Kepulauan untuk selalu menjaga dan memelihara adat dan budaya daerah yang berkembang di tengah-tengah masyarakat.
”Jangan dipertentangkan, sebab masing-masing wilayah memiliki adat, budaya dan kebiasaan sendiri. Oleh karena itu sesama warga masyarakat harus saling menghargai. Di kota ini juga banyak warga dari luar yang datang dan menetap di sini, kita juga menghargai mereka karena mereka juga warga negara Indonesia,” terangnya.
Menurut orang nomor satu di Kota Tidore Kepulauan ini, keberagaman dan agama, adat, budaya dan kebiasaan itu sesuatu yang lazim dan menjadi rahmat. Dari keberagaman dan perbedaan itu menjadi sebuah kekuatan untuk mewujudkan Visi Kota Tidore Kepulauan yang Religius, Maju, Adil dan Sejahtera. Warga juga dimbau hidup berdampingan secara damai antara sesama ummat beragama.
Nilai-nilai seni-budaya peninggalan para kolano dan sultan di negeri ini, harus digali dan dihidupkan kembali. Disadari bahwa kekuatan kearifan lokal telah terbukti membawa nama harum Tidore sekaligus menorehkan sejarah emas di masa silam. Sudah saatnya kita tidak hanya bangga dengan kejayaan yang pernah kita raih dengan sekadar bernostalgia atau beromantisme dengan sejarah lalu, tetapi butuh langkah nyata dari pemerintah daerah melalui instansi terkait bersama komponen yang peduli, untuk segera melakukan perubahan.
Momentum Hari Jadi Kota Tidore Ke 903 menjadi media bersama bagi Pemerintah Kota Tidore Kepulauan melalui Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Tidore Kepulauan bersama stakeholders terkait, terutama Dewan Kesenian dan Kebudayaan Kota Tidore Kepulauan sebagai salah satu mitra pemerintah Daerah, untuk terus mendorong dan memfasilitasi masyarakat guna menghidupkan kembali kearifan lokal di masing-masing kampung, desa dan kelurahan.
Jangan biarkan Generasi kita kehilangan jati diri, menjadi tidak bangga dengan keaslian seni dan budaya sendiri. Jangan sampai mereka justru lebih bangga dengan seni dan budaya dari luar yang belum tentu cocok dan dapat diterima oleh masyarakat kita. “Ingat pesan leluhur kita, Guraci no ige ua, karabanga no gonofo, maliku ge banga ua, gumale gam malele (Artinya : emas permata milik kita, tidak pernah kita hiraukan, milik orang lain yang belum tentu sebagus milik kita, kita pelihara dan dijadikan pegangan),” ungkap Walikota H. Achmad Mahifa.
Hal senada dikemukakan Wakil Walikota Drs. Hamid Muhammad. Menurut orang nomor dua di Kota Tidore Kepulauan ini, adat dan budaya menjadi cikal bakal dan dasar dalam pembangunan sebuah daerah. Dengan demikian diharapkan setiap proses dan pelaksanaan pembangunan benar-benar mengakar pada kebutuhan dasar masyarakat setempat. “Sebagai warga kota, terutama generasi muda, kita harus bangga dengan identitas dan kearifan lokal, karena itu menjadi kekuatan dan modal dasar dalam pembangunan daerah,” terang Hamid.
Menurut Hamid Muhammad, nilai-nilai adat dan budaya yang diwariskan para leluhur haru terus dipertahankan dan dikembangkan ke depan karena telah terbukti menjadi media pemersatu yang efektif dalam kehidupan sosial kemasyarakatan, pelaksanaan roda pemerintahan serta kelancaran pembangunan. Dikatakan selain Hari Jadi Kota Tidore Ke 903, masih ada satu lagi momentum penting pada tahun 2012 yang harus direbut, sekaligus sebagai ajang mempromosikan potensi budaya dan pariwisata di Kota Tidore Kepulauan, yaitu agenda Nasional Sail Indonesia di Morotai 2012. Momentum ini harus menjadi pintu masuk pertumbuhan titik-titik promosi pariwisata sejarah dan budaya di Kota Tidore Kepulauan. Sebut saja prosesi adat Ritual TOBO Safar yang dikemas dalam Pelangi Budaya Negeri Tidore di Kelurahan Mafututu, Upacara Adat Legu Dou di Lingkungan Afa-Afa Tomayou, Upacara Adat Joko Uku di Kalaodi, Maitara Fest antara Rum dan Maitara serta di sejumlah tempat lainnya.

Sejarah Panjang
Upacara adat pada Hari Jadi Kota Tidore sebetulnya merefleksikan kisah sejarah yang panjang. Misalnya, 12 April terpilih menjadi hari jadi Kota Tidore karena fakta sejarah yakni 12 April 1797 Tidore dapat direbut kembali dari penjajahan asing tanpa pertumpahan  darah. Peristiwa itu terkenal dengan sebutan Revolusi Tidore. Selain itu tanggal 12 merupakan titik awal suasana munculnya kesadaran bagi seluruh masyarakat Kesultanan Tidore pada masa itu.
Bulan April dipilih karena fakta lain menunjukan pada bulan ini terjadi peristiwa yang bermakna simbolik, kebersamaan dan persatuan telah terjadi di wilayah ini. Seluruh masyarakat Tidore baik yang sebelumnya mendukung perjuangan Nuku maupun yang berada dalam lingkungan kekuasaan Sultan Kamaluddin bentukan kompeni, secara bersama-sama menghilangkan perbedaan dan bahu-membahu mengusir kekuasaan asing di Tidore.
Revolusi April mengambarkan semangat nasionalisme perdamaian, persatuan di barengi semangat kemanusiaan seluruh rakyat Tidore bangkit melakukan perjuangan suci mengusir kekuasaan asing. Sikap Nuku memimpin sendiri penyerangan adalah contoh dan suri teladan bagi seorang pimpinan yang senantiasa tetap berada di garis depan memperjuangkan kepentingan bangsanya.
Sehari sebelum Revolusi Tidore, tepatnya pada 11 April 1797  Nuku mengeluarkan perintah kepada seluruh panglima perang yaitu Pertama,  angkatan perang Nuku hanya memerangi kompeni Belanda dan sekutunya. Kedua, masing-masing pasukan melaksanakan tugasnya sendiri-sendiri dan melaporkan pada hari yang telah ditentukan. Ketiga, jangan membunuh orang yang telah menyerah, jangan membakar rumah dengan sia-sia. Ketiga, barang rampasan berupa senjata dan amunisi dan mesiu harus dibawa ke markas besar. Keempat, orang-orang Belanda yang tertahan jangan dibunuh melainkan dihadapkan kepada Nuku. Kelima, penyerbuan ke Tidore ditetapkan pada tanggal 12 April 1797.
Pada hari Rabu tanggal 12 April 1797 saat fajar menyingsing satu pasukan induk dengan kekuatan 70 buah kora-kora dibawah komando Nuku dan Panglima Muda Abdul Gafar. Pasukan sayap kiri dengan 20 buah kora – kora dibawah komando Zainal Abidin Pasukan sayap kanan dengan 20 kora-kora dibawah pimpinan Raja Maba dan pengawal belakang dengan 40 buah kora-kora dibawah komando Raja Salawati mulai bergerak.
Pasukan induk langsung menyerbu Tidore, pasukan sayap kiri mengamati gerakan hongi Ternate dan kapal – kapal Belanda dengan mengelilingi pulau Tidore dan Maitara, sedangkan pasukan sayap kanan menuju Oba sebagai pasukan cadangan dan pasukan pengawal bertugas menangkis serangan-serangan dari belakang.
Lima belas jam sebelum Nuku menyerbu Tidore, Abdul Jalal telah tiba di Soasio Tidore, menemui Sultan Kamaluddin menyampaikan ultimatum Nuku. Sultan Kamaluddin dikelilingi pembesar-pembesar Belanda dengan tegas menolak ultimatum Nuku. Pada malam yang gelap gulita itu Kamaluddin melarikan diri ke Ternate dikawal oleh serdadu – serdadu Belanda.
Pendaratan pasukan induk Nuku di Tidore pada tanggal 12 April 1797 tidak ada perlawanan apa-apa, tidak ada setetes darahpun yang tumpah. Revolusi Tidore telah dilakukan oleh Nuku dengan aman dan damai, bahkan Nuku dan pasukannya disambut seluruh rakyat Tidore dengan sorak sorai dengan suka cita oleh para Bobato, gimalaha-gimalaha dan sangaji-sangaji.
Nuku  kemudian dinobatkan sebagai Sultan atas seluruh kerajaan Tidore dengan gelar Sri Paduka Tuan Sultan Saidul Jehad Muhammad El Mabus Amiruddin Syah Kaicili Paparangan Jou Barakati, Sultan Tidore, Papua, Seram dan daerah-daerah taklukannya. Dalam pidato pengukuhan sebagai Sultan, Nuku mengajak rakyat Moloku Kie Raha untuk bangkit mengusir kompeni Belanda dari wilayahnya.
Tahun 1108 ditetapkan sebagai tahun lahirnya Kota Tidore, sebab tahun itulah Adkur Madero diangkat sebagai Kolano Tidore yang pertama sekaligus sebagai cikal bakal berdirinya pemerintahan di Tidore. Sejak itu Tidore mulai berlaku sistem pemerintahan, wilayah dan aturan hukum. Patut diakui realitas politik Kota Tidore pada saat ini diperoleh dari  legitimasi realitas kultural Tidore pada masa lalu

http://majalahkomite.wordpress.com/2011/05/18/perayaan-hari-jadi-kota-tidore-ke-903/

DINAS PENDIDIKAN TIKEP DALAM LUFU KIE



Lufu kie -1

83 Tahun Pisah, Mahkota & Sultan Tidore Bersatu


 0  12 0
Prosesi ritual adat bersatunya Mahkota dan Sultan Tidore. (Foto: Rival Fahmi/okezone)
Prosesi ritual adat bersatunya Mahkota dan Sultan Tidore. (Foto: Rival Fahmi/okezone)
TERNATE - Setelah 83 tahun terpisah karena pengkhianatan “internal”, mahkota Sultan Tidore akhirnya dikembalikan ke keraton Sultan Tidore dalam sebuah prosesi ritual adat.

Sultan bersama keratonnya akhirnya menjadi satu setelah terpisah sejak mangkatnya Sultah Sjah Juan pada 1902.


Berbagai prosesi adat dilakukan warga kaki Kie (gunung) Matubo untuk menyambut salah satu perayaan bersejarah ini. Sejak magrib, segala persiapan mulai dilakukan. Para wanita yang berpakaian khas putih-putih Tidore, berkumpul di rumah Sultan di kawasan Gamtufkange.

Mereka umumnya para ibu rumah tangga yang sudah terpilih oleh Bobato Hakekat (juru kunci) untuk melaksanakan prosesi lama lama om moro moro, sebuah ritual untuk menghibur sultan.

Beragam nyanyian bersyairkan nasihat dan petuah dilantunkan mengiring musik gong.

Sempat berhenti sejenak di waktu Isya, nyanyian lalu diganti sejenak dengan tahlilan yang kemudian dilanjutkan hingga dini hari sekira 3.00 WIT menjelang waktu subuh.
Sultan Djafar Sjah bersama Boki (permaisuri) Suhaimi pun dijemput sepasukan warga yang dipimpin empat Soa Gimalaha (Soa Mafu, Soa Famanyira, Soa Faikulu dan Khotib). Setelah melapor, Sultan dan Boki dengan baju kebesarannya lalu diarak dengan berjalan kaki menuju keraton setelah sebelumnya Sultan sempat berdoa tepat dibawah pintu rumahnya.

Puluhan pasukan perang yang mengawal Sultan, berpakaian lengkap dengan simbol warna kuning yang melambangkan pembawa bendera kerajaan. Putih biru, artinya pasukan amphibi dengan simbol ikan pari dan hiu. Mereka ini pasukan Angkatan laut milik kerajaan Tidore.

Lalu ada pasukan merah hitam (pasukan pembersih ranjau). Inilah pasukan khusus kerajaan. Mereka bertugas mengawal sepanjang jalan yang dilalui sultan.

Hal unik yang bisa dicatat, sepanjang prosesi ini berlangsung, tak satu pun suara yang terdengar selain bunyi gong yang ditabuh setiap lima detik. Suasana hening itu makin bertambah syahdu ritual ini. Begitu juga cahaya di mana seluruh rumah mematikan lampu, yang ada hanyalah obor penerang yang dibawa beberapa orang dalam pasukan pengawal itu.


Perjalanan sempat terhenti sejenak ketika Sultan menginjakan kaki di gerbang masuk Soa Sio yang merupakan perbatasan Gamtufkange-Soa Sio. Sempat berdoa dalam hati dengan suasana hening, rombongan lalu melanjutkan perjalanan menuju keraton.

Tiba di keraton, Sultan lalu diarahkan Kipu (kepala rumah tangga kesultanan) untuk menaiki 20 anak tangga yang melambangkan sifat Allah, yang diawali dengan doa pada Rabu, tepat pukul 04.00 WIT. Usai berada di ruang tengah keraton, Kipu kemudian berjalan menuju lokasi tempat dimana Mahkota disimpan, untuk memberitahukan kalau Sultan telah memasuki keraton.

Setelah itu barulah para pasukan yang membawa mahkota diarak menuju ke keraton dafri museumnya. Hal itu dilakukan sebagai simbol bahwa sultan raga dari keraton, sementara mahkota adalah nyawanya, sehingga dibawa terlebih dahulu baru kemudian disusul mahkota.

Prosesinya tak berbeda dengan sebelumnya. hanya saja, tidak seketat pengawalan Sultan, mahkota hanya dikawal orang yang berbeda yaitu Kipu Wahab dari malaha toma you atau putra terbaik dari Nyili Gamtufange.

Dengan dibungkus kain peta, Kipu Wahab ini bertugas polo (memeluk) mahkota kemudian membawa menuju keraton hingga meletakan mahkota tersebut di kamar puji. Kipu Wahab dikawal oleh tujuh Fanyira (kepala kelurahan) masing masing Fanyira Sautu, Fanyira Tugu Waji, Fanyira Goto, Fanyira Tambula, dan Fanyira Jai yang bertugas mengamankan dari hal-hal yang dikhawatirkan akan menghalau perjalanan tersebut. Selain mahkota, beberapa orang juga membawa beragam peralatan kamar puji seperti perisai, tongkat gading, payung dan peralatan untuk persemayaman.

Setiba di keraton, mahkota lalu bawa langsung masuk ke kamar puji dimana sudah dinanti dua imam yakni Imam Gamtufukange dan imam Soa Sio (Tugubu) yang kemudian membacakan doa khusus sebelum diletakan mahkota bersama dengan perisai tongkat dan golok.

Inilah satu-satu kesempatan memasuki kamar puji sebelum pintu kamar itu dikunci yang hanya boleh dimasuki penanggung jawabnya seperti Bobato Hakekat (juru kunci) untuk menjalankan ritual tertentu.

Setelah seluruh ritual dilakukan, sultan kemudian dihibur dengan nyanyian adat dengan menggunakan semacam pembersih padi yang diketuk dengan lantunan nyanyian warga sekitar. Sultan nantinya tidak dibolehkan meninggalkan Tidore selama kurun waktu 44 hari.

Menurut sejarahnya, setelah Sultan Tidore Kawiyudin atau Sjah Juan mangkat pada tahun 1902, selama 10 tahun kemudian, Kerajaan Tidore mengalami kekosongan pimpinan atau belum ada penggantinya. 10 tahun kemudian tepat pada 1912, keraton kesultanan Tidore di bongkar pihak keluarga dengan alasan ada penyusup yakni Bosi yang menghasut warga untuk memilihnya menggantikan Sjah Juan.

Setelah dibongkar, kerabat kesultanan kemudian mengamankan mahkota kebesaran itu ke salah satu rumah di Soa Sio (ibukota Tidore). “Bersembunyi” selama puluhan tahun, mahkota kembali dipindahkan ke museum pada tahun 1970an.

Maka sejak 1912, kesultanan Tidore nyaris tinggal sejarah. Kesultan Tidore sendiri kini dipimpin Djafar Sjah yang sempat menjabat sebagai anggota DPD-RI periode 2004-2009 lalu.Terpilihnya Rabu, karena dipercaya hari itu merupakan Razal atau harinya para lelaki.

http://news.okezone.com/read/2010/03/19/340/313943/83-tahun-pisah-mahkota-sultan-tidore-bersatu

Pesta Panen Legu Dou di Gubukusuma



Menumbuk hasil panen menggunakan lesung dalam prosesi Adat Legu Dou di Gubukusuma (foto : Om Gogo)

[halmaheranews-TIDORE-30/06/2011] Masyarakat Kelurahan Gubukusuma, Kecamatan Tidore Utara, Selasa sore (28/6), menggelar upacara adat Legu Dou, dipusatkan di lingkungan Buabua, Kelurahan Gubukusuma. Legu Dou merupakan ritual adat tahunan sebagai ungkapan rasa syukur masyarakat adat wilayah Kecamatan Tidore Utara atas hasil panen yang melimpah.

Kegiatan diawali dengan permainan adat Baramaswen sebagai symbol kerjasama masyarakat dalam bergotong-royong, saling membantu meringankan beban pekerjaan. . Permainan baramaswen atau bamboo gila ini juga sebagai bagian dari upacara penyambutan tamu yang diundang dalam perayaan Legu Dou.
Usai proses penyambutan tamu kehormatan, yang dalam hal ini adalah Assisten Sekda Bidang Tata Pemerintahan H. Mochtar Sangadji, S.IP mewakili walikota berseta rombongannya, acara kemudian dilanjutkan dengan  Kabata atau prosesi adat menumbuk hasil panen menggunakan lesung sambil bersenandung, mengucapkan syukur atas hasil panen. Acara kabata ini kemudian dilanjutkan pembacaan sejarah singkat Upacara Adat Legu Dou oleh Lurah Gubukusuma.

Upacara puncak Legu Dou dimulai dengan pembacaan Saluma atau Moro-moro dan dilanjutkan Oyo Dana, yaitu peserta upaacra makan bersama hasil panen berupa jagung dan sagu yang telah diberi berkat oleh tetua adat. serta prosesi sekelompok anak berlomba memperebutkan makanan yang disajikan.
Walikota Tidore Kepulauan Drs. H. Achmad Mahifa dalam sambutan tertulisnya yang dibacakan Assisten Sekda Bidang Tata Pemerintahan, H. Mochtar Sangadji, S.IP. mengatakan upacara adat Legu Dou merupakan asset budaya yang sangat berharga, oleh karena itu selain membutuhkan peran dan campur tangan pemerintah daerah, juga peran masyarakat di setiap kampong dan kelurahan untuk ikut berpartisipasi langsung dalam menghidupkan dan mempromosikan Legu Dou sebagai sebuah potensi wisata.
Upacara Legu Dou ini merupakan upacara tahunan yang telah digelar untuk yang ke 39 sejak ditetapkan sebagai upacara adat rutin tahunan masyarakat Gubukusuma, dengan tujuan meningkatkan iman dan taqwa kepada Allah SWT sekaligus memperkenalkan kearifan budaya lokal kepada generasi muda serta menanamkan rasa cinta akan budaya sendiri.

Kegiatan ini selain dihadiri Assisten Sekda Bidang Tata Pemerintahan H. Mochtar Sangadji, S.IP mewakili walikota, juga dihadiri oleh sejumlah Kepala SKPD, Camat Tidore Utara Alwi Muhammad, BA, para lurah se Kecamatan Tidore Utara, tokoh adat, tokoh masyarakat serta masyarakat Gubukusuma dan sekitarnya. Upacara ditutup dengan doa yang meminta agar masyarakat diberikan kesejahteraan, dijauhkan dari segala bencana dan memohon agar tahun depan memperoleh hasil panen yang melimpah .

http://halmaheranews.com/2011/06/29/pesta-panen-legu-dou-di-gubukusuma/

ISTANA TIDORE


Tidore adalah sebuah nama pulau yang terletak di sebelah barat Pulau Halmahera dan di sebelah selatan Pulau Ternate. Raja atau kolano pertama yang menggunakan gelar Sultan di Tidore adalah Caliati atau Jamaluddin yang memerintah pada tahun 1495 hingga 1512. Sebelumnya tidak terdapat catatan sejarah siapa kolano yang berkuasa sebelum Caliati. Namun sejarawan Belanda F.S.A. de Clerq mencatat pada tahun 1334 Tidore dipimpin oleh seseorang yang bernama Hasan Syah. Dari nama kolano dan gelar sultan yang digunakan di wilayah Tidore nampaknya pengaruh Islam telah tersebar disana secara luas.
Kesultanan Tidore merupakan satu dari empat kerajaan besar yang berada di Maluku, tiga lainnya adalah Ternate, Jaijolo dan Bacan. Namun hanya Tidore dan Ternate-lah yang memiliki ketahanan politik, ekonomi dan militer. Keduanya pun bersifat ekspansionis, Ternate menguasai wilayah barat Maluku sedangkan Tidore mengarah ke timur dimana wilayahnya meliputi Halmahera Tengah, Halmahera Timur, Maba, Patani, Seram Timur, Rarakit, Werinamatu, Ulisiwa, Kepulauan Raja Empat, Papua daratan dan sekitarnya.
Sultan kedua Tidore adalah Almansur yang naik takhta pada tahun 1512 dan kemudian ia menetapkan Mareku sebagai pusat pemerintahan. Ia adalah Sultan yang menerima kedatangan Spanyol di Tidore untuk beraliansi secara strategis sebagai jawaban atas aliansi yang dibangun oleh Ternate dan Portugis. Spanyol tiba di Tidore pada tanggal 8 November 1521, turut serta dalam rombongan kapal armada Magellan, Pigafetta, seorang etnolog dan sejarawan Italia.
Sultan Almansur memberikan tempat bagi Spanyol untuk melakukan perdagangan di Tidore. Sepotong kain merah ditukar dengan cengkih satu bahar (550 pon), 50 pasang gunting dengan satu bokor cengkih, tiga buah gong dengan dua bokor cengkih. Dengan cepat cengkih di seluruh Tidore ludes, sehingga harus dicari di tempat lain seperti Moti, Makian dan Bacan. Demikianlah kerjasama antara Tidore dan Spanyol semakin berkembang, tidak hanya di bidang perekonomian tetapi juga di bidang militer.
Pada tahun 1524, didasari persaingan ekonomi berupa penguasaan wilayah perdagangan rempah-rempah, pasukan gabungan Ternate dan Portugis yang berjumlah 600 orang menyerbu Tidore dan berhasil masuk ke ibukota Mareku. Hal yang menarik adalah, meski serangan gabungan tersebut mencapai ibukota Tidore, mereka tidak dapat menguasai Tidore sepenuhnya dan berhasil dipukul mundur beberapa waktu kemudian. Dua tahun berikutnya (1526) Sultan Almansur wafat tanpa meninggalkan pengganti.
Kegagalan serangan tersebut berujung dilakukannya perjanjian Zaragosa antara Raja Portugis, John III dan Raja Spanyol, Charles V pada tahun 1529. Dengan imbalan sebesar 350.000 ducats, Charles V bersedia melepaskan klaimnya atas Maluku, namun demikian hal tersebut tidak serta merta menyebabkan seluruh armada Spanyol keluar dari Maluku.
Pada tahun yang sama dengan Perjanjian Zaragosa, putera bungsu Almansur, Amiruddin Iskandar Zulkarnaen, dilantik sebagai Sultan Tidore dengan dibantu oleh Kaicil Rade seorang bangsawan tinggi Kesultanan Tidore sebagai Mangkubumi. Dimasanya terjadi tribulasi, ketika Gubernur Portugis di Ternate, Antonio Galvao, memutuskan untuk kembali meyerang Tidore. Pasukan Portugis mendapatkan kemenangan atas Tidore pada tanggal 21 Desember 1536 dan mengakibatkan Tidore harus menjual seluruh rempah-rempahnya kepada Portugis dengan imbalan Portugis akan meninggalkan Tidore.
Pada tahun 1547, Sultan Amiruddin Iskandar Zulkarnaen wafat dan digantikan oleh Sultan Saifuddin, demikian pula tongkat estafet kesultanan berikutnya, berturut-turut Kie Mansur, Iskandar Gani dan Gapi Baguna hingga tahun 1599. Pada era tersebut tidak terjadi sesuatu yang luar biasa di Kesultanan Tidore, kecuali pada tahun 1578 Portugis membangun Benteng “Dos Reis Mogos” di Tidore. Namun demikian benteng tersebut tidak mencampuri urusan internal kesultanan.
Kejadian penting lainnya yang patut dicatat adalah terjadinya unifikasi kekuatan Portugis dan Spanyol di Maluku di bawah pimpinan Raja Spanyol pada tahun 1580. Sehingga demikian semua benteng Portugis dan Spanyol di seluruh kepulauan Maluku dapat digunakan oleh kedua belah pihak.
Unifikasi ini sebenarnya didahului oleh kejadian sebelumnya, yaitu penaklukan benteng Portugis-Gamlamo di Ternate oleh Sultan Babullah, Sultan Ternate terbesar, pada tanggal 26 Desember 1575. Menyerahnya Gubernur Portugis terakhir di Maluku, Nuno Pareira de Lacerda, menunjukkan berakhirnya kekuasaan Portugis di Nusantara. Hal ini mengakibatkan mau tidak mau armada perang Portugis membentuk persekutuan dengan Spanyol di kepulauan Maluku.

Pada tanggal 26 Maret 1606, Gubernur Jenderal Spanyol di Manila, Don Pedro da Cunha, mulai membaca gerak-gerik VOC-Belanda memperluas wilayah dagangnya hingga Maluku. Karena merasa terancam dengan kehadiran armada dagang VOC-Belanda yang mulai menjalin kerjasama dengan Kesultanan Ternate, ia memimpin pasukan menggempur Benteng Gamlamo tentu saja dengan bantuan dari Tidore yang pada waktu itu dipimpin oleh Sultan Mole Majimu.

Spanyol berhasil menguasai Benteng Gamlamo di Ternate, tetapi tidak lama setelah itu VOC Belanda berhasil pula membuat benteng yang kemudian disebut sebagai “Fort Oranje” pada tahun 1607 di sebelah timur laut Benteng Gamlamo serta membangun garis demarkasi militer dengan Spanyol. Paulus van Carden ditujuk sebagai Gubernur Belanda pertama di Kepulauan Maluku.

Ketika Sultan Tidore ke 12 memerintah yaitu Sultan Saifudin, pada tahun 1663 secara mengejutkan Spanyol menarik seluruh kekuatannya dari Ternate, Tidore dan Siau yang berada di Sulawesi Utara ke Filipina. Gubernur Jenderal Spanyol yang berada Manila, Manrique de Lara, membutuhkan semua kekuatan untuk mempertahankan Manila dari serangan bajak laut Cina, Coxeng. Gubernur Spanyol di Maluku, Don Francisco de Atienza Ibanez, nampak meninggalkan kepulauan Maluku pada bulan Juni 1663. Maka berakhirlah kekuasaan Spanyol di Kepulauan Maluku.

Dengan tiadanya dukungan militer dari Spanyol, otomatis kekuatan Tidore melemah dan VOC-Belanda menjadi kekuatan militer terbesar satu-satunya di kepulauan yang kaya dengan rempah-rempah itu. Akhirnya Sultan Saifudin kemudian melakukan perjanjian dengan Laksamana Speelman dari VOC-Belanda pada tanggal 13 Maret 1667 yang mana isinya adalah : (1) VOC mengakui hak-hak dan kedaulatan Kesultanan Tidore atas Kepulauan Raja Empat dan Papua daratan (2) Kesultanan Tidore memberikan hak monopoli perdagangan rempah-rempah dalam wilayahnya kepada VOC.

Batavia kemudian mengeluarkan Ordinansi untuk Tidore yang membatasi produksi cengkeh dan pala hanya pada Kepulauan Banda dan Ambon. Di luar wilayah ini semua pohon rempah diperintahkan untuk dibasmi. Pohon-pohon rempah yang ‘berlebih’ ditebang untuk mengurangi produksi rempah sampai seperempat dari masa sebelum VOC-Belanda memegang kendali perdagangan atas Maluku.
Apa yang dilakukan oleh VOC-Belanda tersebut, yaitu memusnahkan atau eradikasi pohon-pohon cengkih di Kepulauan Maluku, disebut sebagai “Hongi Tochten”. Kesultanan Ternate sebenarnya telah terlebih dahulu mengadakan perjanjian yang berkenaan dengan “Hongi Tochten” pada tahun 1652 kemudian disusul oleh Tidore beberapa waktu berikutnya setelah Tidore mengakui kekuatan ekonomi-militer Belanda di Maluku. Pihak kesultanan menerima imbalan tertentu (recognitie penningen) dari pihak VOC akibat operasi ini. “Hongi Tochten” dilakukan akibat banyaknya penyelundup yang memasarkan cengkih ke Eropa sehingga harga cengkih menjadi turun drastis.

Sepeninggal Sultan Saifudin, Kesultanan Tidore semakin melemah. Banyaknya pertentangan dan pemberontakan di kalangan istana kesultanan menyebabkan Belanda dengan begitu mudah mencaplok sebagian besar wilayah Tidore. Hal ini mencapai puncaknya hingga pemerintahan Sultan Kamaluddin (1784-1797), dimana sejarawan mencatat bahwa sultan ini memiliki perangai yang kurang baik. Namun demikian lambat laun situasi mulai berubah ketika Tidore memiliki Sultan yang terbesar sepanjang sejarah mereka yaitu Sultan Nuku.
Pada tahun 1780, Nuku memproklamasikan dirinya sebagai Sultan Tidore dan menyatakan bahwa kesultanan-nya sebagai wilayah yang merdeka lepas dari kekuasaan VOC-Belanda. Kesultanan Tidore yang dimaksudkan olehnya meliputi semua wilayah Tidore yang utuh yaitu : Halmahera Tengah dan Timur, Makian, Kayoa, Kepulauan Raja Ampat, Papua Daratan, Seram Timur, Kepulauan Keffing, Geser, Seram Laut, Kepulauan Garang, Watubela dan Tor.
Setelah berjuang beberapa tahun, Sultan Nuku memperoleh kemenangan yang gemilang. Ia berhasil membebaskan Kesultanan Tidore dari kekuasaan Belanda dan mengembalikan pamornya. Penghujung abad ke-18 dan permulaan abad ke-19 adalah era keemasan Tidore di bawah Nuku. Pada titik ini, kebesaran Sultan Nuku dapat dibandingkan dengan keagungan Sultan Babullah yang telah mengusir Portugis dari Ternate.
Kemenangan-kemenangan yang diraih Sultan Nuku juga tidak lepas dari kondisi politik yang terjadi di negeri Belanda. Tahun 1794, Napoleon Bonaparte menyerbu Belanda yang mengakibatkan Raja Willem V mengungsi ke Inggris. Selama menetap di Inggris, ia mengeluarkan instruksi ke seluruh Gubernur
Jenderal daerah jajahannya agar menyerahkan daerahnya ke Inggris supaya tidak jatuh ke tangan Perancis. Tahun 1796, Inggris menduduki. Ditambah dengan bubarnya VOC pada Desember 1799, maka hal ini semakin memperlemah kedudukan Belanda di Kepulauan Maluku.
tetapi pada tanggal 14 November 1805, Tidore kehilangan seorang sultan yang pada masa hidupnya dikenal sebagai “Jou Barakati” atau di kalangan orang Inggris disapa dengan “Lord of Forrtune”. Wafatnya Sultan Nuku dalam usia 67 tahun tidak hanya membawa kesedihan bagi rakyat Malaku, tetapi juga memberikan kedukaan bagi rakyat Tobelo, Galela dan Lolada yang telah bergabung ke dalam barisan Nuku sejak awal perjuangannya.
Selain memiliki kecerdasan dan karisma yang kuat, Sultan Nuku terkenal akan keberanian dan kekuatan batinnya. Ia berhasil mentransformasi masa lalu Maluku yang kelam ke dalam era baru yang mampu memberikan kepadanya kemungkinan menyeluruh untuk bangkit dan melepaskan diri dari segala bentuk keterikatan, ketidakbebasan dan penindasan.

PERANAN SULTAN
Sultan NUKU : Sultan Tidore Terbesar
Kaicil Nuku yang berhasil meloloskan diri dari Tidore menjelang penobatan putra alam,kemudian mendirikan markas besar perlawanannya di antara Patani dan Weda,ia mengirimkan pembantu-pembantunya ke maba,seram timur,kepulauan raja ampat,serta papua untuk mencari dukungan.
Pada tahun 1780,sultan Nuku memproklamasikan kekuasaan sebagai sultan Tidore dan menyatakan kesultanannya sebagai sebuah negara merdeka setelah berjuang beberapa tahun,Sultan Nuku memperoleh kemenangan yang gemilang.ia berhasil membebaskan kesultanannya dari kekuasaan Belanda dan mengembalikan pamornya penghujung Abad ke-18. dan pemulaan abad ke 19 adalah era keemasan Tidore di bawah Sultan Nuku.
Bagi Tidore sendiri, keempat gagasan politik Sultan Nuku itu berhasil di jalankan oleh Sultan Nuku berhasil menghidupkan kembali kebiasaan Kesultanan Tidore dengan kembali menguasai seluruh wilayah Tidore seutuhnya .ia juga berhasil menghidupkan kembali Kerajaan Jailolo ,sehingga untuk pertamakalinya dalam jangka waktu yang relative cukup lama Maluku berdiri tegak atas empat pilar seperti di masa awal kelahirannya,Selanjutnya,ia berhasil mencipatakan persekutuan tiga dari empat kerajaan Maluku:Tidore,Bacan,Jailolo,kecuali Ternate.Sementara terusirnya Belanda untuk sementara waktu dari Tidore merupakan keberhasilan Sultan Nuku yang lain ,pada titik ini,kebesaran Sultan Nuku dapat di bandingkan dengan keagungan Sultan BABULLAH yang telah mengenyahkan Portugis dari Ternate.

Pada 14 november 11805,Maluku kehilangan seorang Sultan yang semasa hidupnya ia di kenal sebagai Jou Barakati atau kalangan orang Inggris di sapa”The Lord   Fortune” kepergian sultan Nuku merupakan kehilangan besar bagi rakyat Maluku,khususnya warga kesultanan Tidore,wafatnya Sultan Nuku dalam usia 67 tahun tidak hanya memberikan kesedihan bagi rakyat kesultanan Tidore,wilayahnya meliputi Hallmahera Timur,kepulauan raja ampat dan Papua daratan tetapi juga memberi kedukaan bagi rakyat Tobelo Galela dan loloda yang telah bergabung ke dalam barisan Sultan Nuku,sejak awal perjuangannya ,ketika Sultan Nuku menyingkir ke kepulauan Raja Ampat,Papua Daratan,seram,dan Halmahera timur,hingga saat terakhir kerika ia menghembuskan nafas yang penghabisan.

Perjuangan Sultan Nuku berlangsung pada perempatan terakhir abad ke 18 dan permulaan abad ke 19,setelah Sultan Nuku wafat,sejarah lama Tidore berulang kembali,perebutan kekuasaan oleh penganti pengganti sultan Nuku dan campur tangan Belanda dalam suksesi Tidore, menyebabkan pamor Tidore terpuruk kembali menjadi kesultanan yang lemah.

Tidore Pasca Sultan NUKU

Orang yang di bina Sultan Nuku dan selalu menyertainya dalam setiap aktivitas adalah adik tirinya sendiri,kaicil Zainal Abidin,Tokoh inilah yang di wasiatkan Sultan Nuku untuk menggantikannya.
Atas dasar wasiat tersebut ,para anggota dewan kerajaan dan bobato Tidore menetapkan Muhammad Zainal Abidin  sebagai Sultan Tidore ke 20 untuk menggantikan Sultan Nuku pada tahun 1805.

Tidore dan Portugis

Ketika dua kapal dari ekspedisi Magellan mengunjungi Tidore pada 1521. Portugis memutuskan membangun sebuah benteng di Ternate pada 1529, penguasa Portugis dan Spanyol menandatangani perjanjian zaragoza.
Walaupun Tidore membenci Portugis menjadi mitra Ternate,dan karena serangan-serangannya yang telah beberapa kali dilakukan terhadap kerajaan ini akan tetapi atas perintah raja Portugis,pada 1578 Portugis membangun pemukimannya di suatu area terbatas. Di samping itu,Portugis juga membangun benteng yang di beri nama DOS REIS MOGOS.hingga awal abad ke-17,selisih berganti kapten Portugis memimpin benteng ini.
Berbeda dengan Ternate,para kapten benteng  Tidore tidak mencampuri sam sekali urusan-urusan internal kesultanan.Tugas utama mereka hanya melakukan perdagangan rempah-rempah ,atas izin Sultan Gapi Baguna dan mole majimu.Sultan Gapi Baguna pada awalnya menampakkan sikap bersahabat dengan orang Portugisyang ada di tidore untuk menghadapi pertumbuhan kekuatan Ternate.Tetapi ,ketika memberi izin pendirian benteng kepada Portugis pada tahun 1578,Gami Baguna merasa perlu mengundang seorang pastor untuk meminta pertimbangannya ia menekankan bahwa apabila sebuah gereja kelak didirikan di dekat benteng harus ada jaminan bahwa tidak akan ada upaya mengonversi agama rakyat Tidore ,pada tahun 1605 ,benteng portugis yang ada di Tidore ini diserbu dan berhasil di rebut Belanda.

Ternate - Tidore persaingan atau perseteruan

Perseteruan antara Ternate dan Tidore telah berlangsung selama berabad-abad dan tidak dapat di pastikan kapan di mulai,sebagai ancang-ancang dapat di tentukan untuk sementara bahwa rivalitas telah terjadi sejak abad ke 14,ketika Sida Arif Malamo bertahta di Ternate(1322-1331)kolano Ternate ini berhasil memindahkan pasar dan perdagangan rmpah-rempah dari Hitu Ambon ke Ternate. Ternate secara ekonomis mulai bangkit,karena kedatangn dan mulai menetapnya padagang-pedagang jawa (melayu) Arab, cina dan Gujarat’.
 Dengan pertumbuhan ekonomi yang lebih baik,melebihi kerajaan-kerajaan tetangganya rakyat kerajaan Ternate mulai meningkat makmur,kecemburuan yang di ikuti tindakan-tindakan perampokan di laut dan di darat terhadap Ternate mulai terjadi,bahkan timbul gagasan membentuk “Persekutuan Empat Kolano”(Tidore,Bacan,Jailolo dan Obi)untuk menentang Ternate.Tetapi,gagasan ini tidak menjadi kenyataan karena Sida Arif Malamo membawa Tidore,Bacan,Jailolo ke pertemuan Moti yang berakhir dengan di bentuknya sebuah”Persekutuan”(Motir Verbond).

Tetapi, persaingan tidak sehat dan mulai menjurus kepada perseteruan muncul ketika kedua kerajaan ini mengawali kemitraannya dengan kekuasaan Asing:Ternate dengan Portugis,dan Tidore dengan Spanyol,Ternate dengan bantuan mitranya menyerbu Tidore,ketika tumpuk pemerintahan Ternate di kendalikan Raja Muda TARUWESE.
 Kerajaan Ternate dan Tidore sempat mengalami kerukunan yang sangat terbatas ketika kendali politik Tidore di pegang Sultan Syaifudin dan Ternate di bawah Mandar Syah.VOC (mitra Ternate)dan Inggris(mitra Tidore)merupakan 2 kekuasaan asing yang paling sering memfasilitasi kedua kerajaan itu untuk berdamai.
Sultan Syaifudin dan Sultan Mandar Syah dapat di pandang sebagai dua tokoh yang saling berhasil menciptakan perdamaian Tidore dan Ternate.Tetapi,patut disayangkan keduanya tak pernah mampu menciptakan perdamaian yang kekal /langgeng.
Perseteruan Ternate-Tidore baru barakhir secara abadi,setelah penguasa Netherland indie mempertali semua kekuatan mereka untuk selamanya.


A.Aspek Kehidupan Politik dan Kebudayaan
Raja Tidore mencapai puncak kejayaan pada masa pemerintahan Sultan Nuku (1780-1805 M). Sultan Nuku dapat menyatukan Ternate dan Tidore untuk bersama-sama melawan Belanda yang dibantu Inggris. Belanda kalah serta terusir dari Tidore dan Ternate. Sementara itu, Inggris tidak mendapat apa-apa kecuali hubungan dagang biasa. Sultan Nuku memang cerdik, berani, ulet, dan waspada. Sejak saat itu, Tidore dan Ternate tidak diganggu, baik oleh Portugis, Spanyol, Belanda maupun Inggris sehingga kemakmuran rakyatnya terus meningkat. Wilayah kekuasaan Tidore cukup luas, meliputi Pulau Seram, Makean Halmahera, Pulau Raja Ampat, Kai, dan Papua. Pengganti Sultan Nuku adalah adiknya, Zainal Abidin. Ia juga giat menentang Belanda yang berniat menjajah kembali.
 
B.Aspek Kehidupan Ekonomi dan Sosial
Sebagai kerajaan yang bercorak Islam, masyarakat Tidore dalam kehidupan sehari-harinya banyak menggunakan hukum Islam . Hal itu dapat dilihat pada saat Sultan Nuku dari Tidore dengan De Mesquita dari Portugis melakukan perdamaian dengan mengangkat sumpah dibawah kitab suci Al-Qur’an.
Kerajaan Tidore terkenal dengan rempah-rempahnya, seperti di daerah Maluku. Sebagai penghasil rempah-rempah, kerajaan Tidore banyak didatangi oleh Bangsa-bangsa Eropa. Bangsa Eropa yang datang ke Maluku, antara lain Portugis, Spanyol, dan Belanda.

C.Kemunduran Kerajaan Tidore
 Kemunduran Kerajaan Tidore disebabkan karena diadu domba dengan Kerajaan Ternate yang dilakukan oleh bangsa asing ( Spanyol dan Portugis ) yang bertujuan untuk memonopoli daerah penghasil rempah-rempah tersebut. Setelah Sultan Tidore dan Sultan Ternate sadar bahwa mereka telah diadu domba oleh Portugis dan Spanyol, mereka kemudian bersatu dan berhasil mengusir Portugis dan Spanyol ke luar Kepulauan Maluku. Namun kemenangan tersebut tidak bertahan lama sebab VOC yang dibentuk Belanda untuk menguasai perdagangan rempah-rempah di Maluku berhasil menaklukkan Ternate dengan strategi dan tata kerja yang teratur, rapi dan terkontrol dalam bentuk organisasi yang kuat.


LETAK KERAJAAN 
Secara geografis kerajaan ternate dan tidore terletak di Kepulauan Maluku, antara sulawesi dan irian jaya letak terletak tersebut sangat strategis dan penting dalam dunia perdagangan masa itu. Pada masa itu, kepulauan maluku merupakan penghasil rempah-rempah terbesar sehingga di juluki sebagai “The Spicy Island”. Rempah-rempah menjadi komoditas utama dalam dunia perdagangan pada saat itu, sehingga setiap pedagang maupun bangsa-bangsa yang datang dan bertujuan ke sana, melewati rute perdagangan tersebut agama islam meluas ke maluku, seperti Ambon, ternate, dan tidore. Keadaan seperti ini, telah mempengaruhi aspek-aspek kehidupan masyarakatnya, baik dalam bidang politik, ekonomi, sosial, dan budaya
 
A. KEHIDUPAN POLITIK 
Di kepulauan maluku terdapat kerajaan kecil, diantaranya kerajaan ternate sebagai pemimpin Uli Lima yaitu persekutuan lima bersaudara. Uli Siwa yang berarti persekutuan sembilan bersaudara. Ketika bangsa portugis masuk, portugis langsung memihak dan membantu ternate, hal ini dikarenakan portugis mengira ternate lebih kuat. Begitu pula bangsa spanyol memihak tidore akhirnya terjadilah peperangan antara dua bangsa kulit, untuk menyelesaikan, Paus turun tangan dan menciptakan perjanjian saragosa. Dalam perjanjian tersebut bangsa spanyol harus meninggalkan maluku dan pindah ke Filipina, sedangkan Portugis tetap berada di maluku.
·         Sultan Hairun
Untuk dapat memperkuat kedudukannya, portugis mendirikan sebuah benteng yang di beri nama Benteng Santo Paulo. Namun tindakan portugis semakin lama di benci oleh rakyat dan para penjabat kerajaan ternate. Oleh karena itu sultan hairun secara terang-terangan menentang politik monopoli dari bangsa portugis.
·      Sultan Baabullah
Sultan baabullah (Putra Sultan Hairun) bangkit menentang portugis. Tahun 1575 M Portugis dapat dikalahkan dan meninggalkan benteng.

B. KEHIDUPAN EKONOMI
Tanah di Kepulauan maluku itu subur dan diliputi hutan rimba yang banyak memberikan hasil diantaranya cengkeh dan di kepulauan Banda banyak menghasilkan pala. Pada abad ke 12 M permintaan rempah-rempah meningkat, sehingga cengkeh merupakan komoditi yang penting. Pesatnya perkembangan perdagangan keluar dari maluku mengakibatkan terbentuknya persekutuan. Selain itu mata pencaharian perikanan turut mendukung perekonomian masyarakat.
 
C. KEHIDUPAN SOSIAL
Kedatangan bangsa portugis di kepulauan Maluku bertujuan untuk menjalin perdagangan dan mendapatkan rempah-rempah. Bangsa Portugis juga ingin mengembangkan agama katholik. Dalam 1534 M, agama Katholik telah mempunyai pijakan yang kuat di Halmahera, Ternate, dan Ambon, berkat kegiatan Fransiskus Xaverius.
Seperti sudah diketahui, bahwa sebagian dari daerah maluku terutama Ternate sebagai pusatnya, sudah masuk agama islam. Oleh karena itu, tidak jarang perbedaan agama ini dimanfaatkan oleh orang-orang Portugis untuk memancing pertentangan antara para pemeluk agama itu. Dan bila pertentangan sudah terjadi maka pertentangan akan diperuncing lagi dengan campur tangannya orang-orang Portugis dalam bidang pemerintahan, sehingga seakan-akan merekalah yang berkuasa.
Setelah masuknya kompeni Belanda di Maluku, semua orang yang sudah memeluk agama Katholik harus berganti agama menjadi Protestan. Hal ini menimbulkan masalah-masalah sosial yang sangat besar dalam kehidupan rakyat dan semakin tertekannya kehidupan rakyat.
Keadaan ini menimbulkan amarah yang luar biasa dari rakyat Maluku kepada kompeni Belanda. Di Bawah pimpinan Sultan Ternate, perang umum berkobar, namun perlawanan tersebut dapat dipadamkan oleh kompeni Belanda. Kehidupan rakyat Maluku pada zaman kompeni Belanda sangat memprihatinkan sehingga muncul gerakan menentang Kompeni Belanda.

D. KEHIDUPAN BUDAYA
Rakyat Maluku, yang didominasi oleh aktivitas perekonomian tampaknya tidak begitu banyak mempunyai kesempatan untuk menghasilkan karya-karya dalam bentuk kebudayaan. Jenis-jenis kebudayaan rakyat Maluku tidak begitu banyak kita ketahui sejak dari zaman berkembangnya kerajaan-kerajaan Islam seperti Ternate dan Tidore. 
 
http://kebudayaankesenianindonesia.blogspot.com/2011/06/istana-tidore.html

Kunjungan Delegasi Portugis, Mencari Jejak Sejarah Portugis di Tidore


Tujuh orang warga negara portugis tertarik dengan permainan tradisonal bambu gila di halaman Kantor walikota Tidore (Foto : Om Gogo)

[halmaheranews.com- 8/09/2011] Sebanyak 32 orang warga Negara Portugis yang tergabung dalam Centro Nasional Cultura (Pusat Budaya Nasional) bekerjasama dengan Center Of Studies of People and Cultura of Portuguese Expression (Pusat Studi Masyarakat dan Budaya Portugis), Kamis (8/9) pagi, sekitar pukul 09.50 Wit, berkunjung di Tidore.

Tim yang dimpimpin Mr. Guliheme d’Oliveira Martins tersebut tiba di Pelabuhan Rum menggunakan dua buah speed boat dan diterima Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Tidore, Drs. Asrul Sani Soleiman, dengan mengemban misi mencari jejak sejarah Portugis di Tidore. Setelah disambut dengan prosesi adat joko hale oleh kesultanan Tidore dsan tarian adat, rombongan menuju dan melihat dari dekat bekas benteng Tahula dan tugu pendaratan Sebastian Elcano di Kelurahan rum Balibunga.32 orang warga Portugis tersebut terlihat serius mengamati dengan cermat sissa-sisa dinding benteng yang terbuat dari batu .
Usai dari benteng Tahua rombongan menuju benteng Portugis di Kelurahan Soasio, yaitu benteng Tahula. Meskipun harus menaiki sekitar 119 anakan tangga yang menanjak, mereka tetap bersikeras untuk mencapai benteng dan mengambil gambar dari dekat. Selanjutnya mereka menuju ke Kedaton Kesultanan Tidore dan diterima Sultan Tidore H. Mudafar Sjah dan permaisuri Boki Suhaimi didampingi Sekretaris Sultan M. Amin Faruk bersama bobato adat.

Sulatn Tidore H. Djafar Sjah dihadapan rombongan meminta kepada Tim Pencari Jejak Sejarah Portugis di Tidore ini agar menindaklanjuti hasil kunjungan mereka ke Tidore dalam bentuk kerjasama renovasi benteng dan peninggalan sejarah Portugis di Tidore oleh pemerintah Portugis. Sultan juga berharap agar adanya kepedulian pemerintah pusat dan Pemerintah Portugis terhadap kelestarian situs-situs sejarah bangsa Portugis yang ada di Tidore.
Mendengar harapan Sultan tersebut, ketua rombongon Mr. Guliheme d’Oliveira Martins, berjanji akan meneruskan dan memperjuangkannya melalui lembaga yang dipimpinnya kepada pemerintah portugis, termasuk kepada kedutaaan besar Portugis. “Kami datang ke sini untuk mencari dan menemukan jejak sejarah Portugis di Tidore, setelah kembali ke Portugis, kami akan menyampaikan dan memperjuangkan kepada pemerintah Portugis agar mau datang dan melihat sekaligus meronovasi kembali benteng Portugis di sini. Kami juga senang dan beterima kaish, karena disambut dengan ramah dan baik,” jelas Mr. Guliheme d’Oliveira Martins dalam bahasa Portugis dan dterjemahkan oleh rekannya Mr. Roberto Carneioro.

Tatap Muka Dengan Pemkot Tikep
Sebelum menuju Kantor Walikota, rombongan sempat singgah di benteng Tore yang dibangun bangsa Portugis di samping kanan Kedataon Kesultanan Tidore. Selanjutnya rombongan dijamu oleh Plt. Sekda Dra. Hj. Kartini Elake mewakili walikota Tidore besama Muspida sekaligus bertatap muka dengan jajaran pemerintah kota di Aula Sultan Nuku Kantor Walikta Tidore. Di tempat ini rombongan juga disambut dengan tarian adat kapita dari Kelurahan Gurabunga. Atas nama pemerintah derah, Hj. Kartini  Elake berharap kunjungan tersebut makin memperkuat hubungan dan semangat kerjasama di bidang sejarah dan kebudayaan antara Negara Portugis dengan Indonesia, terutama dengan sejarah dan budaya Tidore.
32 orang warga negara Portugis saat tiba di Kantor Walikota Tidore (Foto : Om Gogo)

Menurut Hj. Kartini Elake sejumlah benteng bersejarah milik bangsa Portugis hingga kini tetap dijaga dan dipelihara oleh pemerintah daerah dan masyarakat setempat sebagai bagian dari catatan dan bukti sejarah kedatangan bangsa Portigis di Tidore. Ketua Tim Mr. Guliheme d’Oliveira Martins menambahkan pihaknya juga berjanji akan menyampaikan hal-hal yang mereka temukan selama berkunjung di Tidore kepada masyarakat dan pemerintah Portugis demi kepentingan hubungan dan kerjasama dengan Bangsa Indonesia pada umumnya dan Tidore khususnya..

Usai bertatap muka dengan jajaran pemerintah daerah dan Muspida Kota Tidore Kepulauan, rombongan mencoba permainan tradisional bambu gila di halaman kantor walikota Tidore, selanjutnya melihat dari dekat dan berbelanja di pasar tradisional di Goto, pasar Sarimalaha dan mengunjungi serta berwisata ke pantai Akesahu, selanjutnya sekitar pukul 17.00 Wit mereka meninggalkan Tidore menuju Ternate.

http://halmaheranews.com/2011/09/08/kunjungan-delegasi-portugis-mencari-jejak-sejarah-portugis-di-tidore-2/

Rumah Adat Folajikusesurabi





Rumah adat ini terdapat di Desa Gurabunga, Tidore. Rumah ini dibangun dan digunakan dengan cara yang sama sejak beberapa generasi dari Soa Sowohi (pemimpin kampung) yang disebut Folajikusesurabi.

Fola berarti rumah, jiku berarti sudut, dan surabi berarti serambi atau teras. Jadi, Folajikusesurabi berarti rumah tinggal yang memiliki serambi atau teras. Rumah ini mempunyai empat sudut yang disebut mabuku. Penekanan pada jiku atau mabuku bermakna bahwa adanya pembatasan empat bidang untuk penghidupan batin dan keagamaan.

Bagian-bagian rumah adat Folajikusesurabi melambangkan anatomi tubuh manusia, yaitu: a) Atap melambangkan kepala manusia. b) Tiang rumah melambangkan kapita (pengawal) dari lima marga atau kelima rumah adat tersebut. c) Jendela melambangkan keterbukaan dan kemurahan hati. d) Pintu melambangkan baju panjang (jubah) yang biasa dipakai oleh sultan. e) Dinding melambangkan badan manusia. f) Tiang raja melambangkan sifat tegas dari sang pemimpin. g) Pondasi melambangkan kaki manusia.

Tipologi bagunan persegi empat yang terdiri dari bangunan induk dan dapur dibangun bersambung. Luas rumah induk adalah 13.56 x 9.90 m2 dan dapur 9.90 x 7.00 m2.

Di wilayah setempat tipologi bangunan ini dikenal sebagai Goakalaguti, yang artinya sistem gunting atau bangunan tanpa tiang nok. Rumah adat ini berfungsi sebagai tempat pengobatan supranatural dan penyembahan yang bersifat magis.

Denah ruang terdiri atas (1) teras, (2) ruang tamu sebagai tempat untuk menerima tamu kehormatan, Salai Jin (tarian Jin), dan bermusyawarah, (3) dua kamar tidur, (4) ruang Puji (tempat penyimpanan peralatan upacara adat), dan (5) ruang dapur

Bahan bangunan sebagian besar menggunakan bambu yang dipakai untuk pondasi, dinding, plafon dan rangka atap. Tetapi ada juga rumah menggunakan pondasi batu kali yang langsung ditumpuk tanpa campuran, serta tiang terbuat dari kayu.

Pada perkembangan berikutnya beberapa rumah adat yang telah direnovasi menggunakan campuran semen untuk pembuatan pondasi, di atas pondasi diletakkan bambu sebagai sloef untuk penopang dinding, rangka atap dari bambu utuh, tali ijuk digunakan sebagai pengikat, dan bahan penutup atap dari daun sagu. Ukuran yang digunakan sesuai bagian tubuh manusia dewasa baik perempuan maupun laki-laki (tapak kaki, jengkal tangan, dan depa).

Denah bangunan harus berukuran ganjil, misalnya panjang 7 depa + sejengkal tangan + satu tapak kaki, lebar 5 depa + sejengkal tangan + 1 tapak kaki.

Kadang-kadang untuk ukuran panjang ditambah 1 jengkal laki-laki dan untuk ukuran lebar 1 jengkal perempuan.


Ada lima rumah adat Folajikusesurabi di Desa Gurabunga yang dibuat berdasarkan marga:

a) Fola Sowohi, berarti rumah pemimpin adat Tidore,
b) Fola Tosofu, berarti rumah pemimpin yang menguasai Tasawuf,
c) Fola Toduho, berarti rumah pemimpin yang menguasai laut,
d) Fola Mahifa, berarti rumah pemimpin yang mengenal Marifat,
e) Fola Tosofu Makene, berarti rumah pemimpin yang menguasai ilmu Fiqh.

http://djorky112.blogspot.com/2011/06/rumah-adat-folajikusesurabi.html

Tidore Kepulauan Gelar Upacara Adat Lepas Maulid

KBRN, Jakarta : Kesultanan Tidore, Minggu (6/3) ini, atau 1 Rabiul Akhir 1432 Hijriyah, menggelar Munara Kota Ora Mauludu atau prosesi adat melepas bulan Rabiul Awal atau yang dikenal umat Islam sebagai bulan Maulid.

Dalam siaran pers yang diterima RRI, Minggu (6/3) petang, disebutkan bahwa kegiatan yang dipusatkan di Kedaton Kesultanan Tidore di Kelurahan Soasio tersebut, diawali dengan Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW 1432 Hijriyah pada Sabtu (5/3) malam, yang dirangkaikan dengan pembacaan Riwayat Rasulullah Muhammad SAW atau Saraful Anam oleh Bobata Adat dan Syara Soasio, Nyili Gamtufkange, Nyili Gamtumdi, Sangaji dan Gimalaha.

"Ke depan perlu ada kerjasama antara pihak kesultanan dan pemerintah daerah dalam membangkitkan kembali adat dan budaya, sebagai sebuah kebanggaan bagi generasi di masa sekarang dan yang akan datang,” ujar Walikota Tidore Kepulauan Ahmad Mahifa.

Mahifa menjelaskan, sebagai momentum kebangkitan budaya, maka hari jadi Kota Tidore Kepulauan ke-903 bulan April mendatang, patut dijadikan sebagai media konsolidasi besar-besaran bagi masyarakat adat, terutama, masyarakat Adat Nyili Seba-Seba dan Nyili Gulu-gulu serta masyarakat adat di setiap kampung, desa dan kelurahan harus mengembangkan dan melestarikan kearifan lokal. 

http://www2.rri.co.id/index.php/component/content/article/44-index-berita-terbaru/3276-tidore-kepulauan-gelar-maulid-nabi-muhammad-saw-1432-hijriah

Masjid Sultan Tidore


Ketika jalan-jalan di Soasiu, ibukota Pulau Tidore, aku sempat melihat-lihat masjid Sultan Tidore. Ini masjid tua, umurnya lebih dari 300 tahun, terbuat dari kayu besar. Selama 300 tahun, ia tak pernah diganti. Kuat sekali dan sekeras beton.

Menurut modim Rustam Fabanyo, masjid ini hendak direnovasi akhir November 2005. Ada dua pendapat yang berkembang di kalangan pengurus masjid. Kubu pertama, ingin renovasi dilakukan tetap dengan kayu. Kubu kedua, ingin struktur masjid diganti beton namun dilapisi kayu.

Aku membaca beberapa bacaan soal sejarah masjid. Di Tidore, ia disebut "Masjid Kolano" --dalam bahasa Tidore, "kolano" adalah nama jabatan "sultan" sebelum diganti dengan bahasa Arab. Bangunannya kokoh dan penuh sejarah. Hanya satu dari empat tiang utama yang keropos.

Fabanyo mengatakan saat shalat Jumat, ada rata-rata enam saf (baris) warga bersembayang disini. Setiap baris bisa menampung sekitar 20 orang. Tapi kalau shalat Idul Fitri, masjid ini ramai sekali, hingga sampai ke jalan.

Image hosted by Photobucket.com

Ukuran masjid tak terlalu besar, terletak di jalan utama Soasiu, cukup untuk dua mobil berpapasan. Seng masih buatan Belanda. Masuk ke kiri terdapat tempat wudhu dan toilet. Masuk ke kanan ada bangunan kecil untuk gudang.

Menarik juga, disini ada tempat khusus untuk Sultan Tidore shalat, terletak sebelah tempat khatib menyampaikan khutbah. Bila Sultan sedang tak ada, tempat itu juga dikosongkan. Kini jabatan sultan dipegang, Jaffar Syah, yang merupakan sultan ke-38.

Image hosted by Photobucket.com

Tiang utama yang keropos terletak di sebelah kanan, dekat mimbar, namun tiga tiang lain kokoh. Gorden warna merah muda untuk tempat khatib memberi khutbah. Sultan sholat di tempat dengan gorden warna kuning. Di bagian atap banyak bersarang "burung hujan" --burung-burung kecil yang suaranya cit-cit-cericit menambah suasana tenang dalam masjid ini.

http://andreasharsono.blogspot.com/2005/11/masjid-sultan-tidore.html

Museum Sonyine Malige, Kesultanan Tidore Kota Tidore Kepulauan - Maluku Utara - Indonesia

.
  • Museum Sonyine Malige di Kota Tidore Kepulauan, Provinsi Maluku Utara.
Rating : Rating 1 1 (3 pemilih)

A. Selayang Pandang

Tidore adalah pulau penghasil rempah-rempah terkenal di dunia, yakni cengkeh dan pala. Pada masa sekitar abad ke-16 M, bersama empat kerajaan lainnya di kawasan Maluku Utara, yaitu Ternate, Bacan, dan Jailolo, Tidore menjadi pusat perdagangan yang melayani para pedagang dari Portugis, Spanyol, Inggris, maupun dari Arab serta wilayah Asia lainnya (http://tidorekota.go.id).
Sebelum kedatangan Islam, Tidore lebih dikenal dengan nama Kie Duko, yang berarti pulau yang memiliki gunung api. Gunung setinggi 1,730 meter di atas permukaan laut (dpl) tersebut dikenal dengan nama Kiematubu (kie = gunung). Kiematubu merupakan gunung tertinggi di kawasan Maluku Utara (bandingkan misalnya dengan Gunung Gamalama di Pulau Ternate yang memiliki tinggi 1,721 meter dpl). Keindahan Kiematubu yang menjadi lanskap Pulau Tidore, bersama dengan gunung di Pulau Maitara, diabadikan oleh Bank Indonesia sebagai gambar pada pecahan mata uang Rp1.000,00 (http://andreasharsono.blogspot.com).

Pulau Maitara dan Tidore yang dijadikan gambar pecahan uang Rp1.000,00.
Sumber Foto: http://andreasharsono.blogspot.com
 
Di samping gunungnya yang terkenal, Pulau Tidore juga dikenal sebagai salah satu pusat kesultanan Islam tertua di kawasan Timur Indonesia. Kerajaan di pulau ini diperkirakan telah berdiri sejak tahun 1108 M, dengan rajanya bernama Jou Kolano Sahjati. Tiga setengah abad kemudian, sekitar tahun 1495 M, Sultan Ciriliyati naik tahta dan menjadi penguasa Tidore pertama yang memakai gelar sultan. Kemudian pada abad ke-16, Portugis, Spanyol, kemudian disusul juga oleh Belanda, datang ke kawasan Maluku Utara untuk mencari rempah-rempah. Upaya para pedagang Eropa ini untuk memonopoli perdagangan menimbulkan beberapa kali perlawanan. Salah satu sultan yang paling gigih melawan Belanda adalah Sultan Nuku yang hidup antara tahun 1738-1805 M (http://history.melayuonline.com).
Selama bertahun-tahun, Sultan Nuku berjuang mengusir Belanda dari negerinya. Selain melancarkan serangan atas monopoli Belanda, Sultan Nuku juga dikenal sebagai sultan yang membawa kegemilangan pada Kesultanan Tidore dengan meluaskan wilayah kekuasaannya hingga ke kepulauan Pasifik. Nama-nama pulau di kawasan Pasifik yang pernah menjadi wilayah kekuasaan Tidore memakai nama Nuku, seperti Nuku Hifa, Nuku Oro, Nuku Maboro, Nuku Nau, Nuku Lae-lae, Nuku Fetau, dan Nuku Nono (http://history.melayuonline.com). Selain itu, ada juga beberapa pulau di bagian barat Papua, yakni kepulauan Raja Ampat, yang dikuasai oleh Kesultanan Tidore. Nama Papua sendiri konon berasal dari sebutan orang Tidore, yakni “papo ua” yang berarti tidak bergabung atau tidak bersatu. Maksudnya, pulau besar dengan wilayah yang luas tersebut tidak termasuk ke dalam wilayah kekuasaan Kesultanan Tidore, sehingga disebut wilayah “papo ua” (http://rustamlengkas.com).
Kekuasaan Kesultanan Tidore berakhir dengan diterapkannya Undang Undang Nomor 18 Tahun 1965 tentang penghapusan swapraja di seluruh wilayah Indonesia. Saat ini, Kesultanan Tidore hanya merupakan simbol sejarah dan budaya. Untuk mengenang sejarah Kesultanan Ternate, maka keluarga keturunan sultan berinisiatif untuk memamerkan berbagai peninggalan yang berasal dari para sultan dan keluarganya. Keluarga keturunan sultan kemudian menghibahkan sebuah bangunan untuk dimanfaatkan sebagai museum. Bangunan museum yang diberi nama Museum Sonyine Malige tersebut diresmikan oleh Direktur Jenderal Kebudayaan, Prof. Dr. Hayati Subadio pada tahun 1982 (http://www.museum-indonesia.net).

B. Keistimewaan

Museum Sonyine Malige merupakan satu-satunya museum yang memamerkan peninggalan-peninggalan sejarah Kesultanan Tidore. Museum ini dibangun di atas lahan seluas 800 meter persegi, dengan luas bangunan sekitar 300 meter persegi. Bagian utama bangunan ini digunakan sebagai ruang pameran tetap koleksi-koleksi museum, sementara bagian lainnya untuk ruang pemeliharaan dan toilet.
Di dalam museum ini, wisatawan dapat menyaksikan berbagai peninggalan Kesultanan Ternate, seperti singgasana kesultanan, tempolong tempat ludah sultan (ketur), pakaian adat kesultanan, cap kesultanan, alat-alat perang, kerajinan khas Tidore, peralatan gerabah, rumah adat, peralatan pandai besi, serta peralatan berburu. Salah satu koleksi Museum Sonyine Malige yang cukup fenomenal adalah mahkota kesultanan yang terbuat dari emas yang dilekati oleh rambut. Konon rambut tersebut selalu bertambah panjang, sehingga pada hari-hari tertentu harus dilakukan ritual pemotongan rambut. Koleksi lainnya adalah alquran kuno tulisan tangan yang merupakan salah satu alquran tertua di Tidore.

Alquran kuno dan mahkota kesultanan.
Sumber Foto: Buku Fragile Traditions: Indonesian Art in Jeopardy (hlm 86) dan http://aws05ngofatidore.blogspot.com
 
Mengunjungi Pulau Tidore, selain menimba pengetahuan sejarah di Museum Sonyine Malige, wisatawan juga dapat menikmati berbagai obyek wisata lain yang tak kalah menarik. Misalnya mengadakan pendakian di gunung tertinggi di kawasan Maluku Utara, yakni Gunung Kiematubu, bisa juga mengunjungi desa wisata asri, Desa Gurubunga dan Desa Topo, kemudian melihat peninggalan sejarah Benteng Tidore, serta menikmati keelokan pulau kecil di seberang Tidore, yaitu Pulau Maitara.

C. Lokasi

Museum ini terletak di Kota Soasio, Pulau Tidore, Kota Tidore Kepulauan, Provinsi Maluku Utara, Indonesia. Museum ini buka setiap hari antara pukul 09.00-14.00 WIT.

D. Akses

Untuk menuju Pulau Tidore, wisatawan yang berasal dari luar Provinsi Maluku Utara dapat memanfaatkan penerbangan dari Kota Ambon, Manado, Makassar, maupun dari Sorong menuju Bandara Sultan Babullah Ternate. Dari pulau ini, wisatawan kemudian menyeberang menuju Pulau Tidore melalui Pelabuhan Laut Bastiong. Dari Bastiong, wisatawan dapat menggunakan kapal cepat (speedboat) dengan kapasitas sekitar 10 orang, atau bisa juga menggunakan kapal feri. Kapal feri biasanya berlayar dua kali sehari menuju Pulau Tidore (Pelabuhan Rum), sementara kapal cepat berlayar sesuai dengan permintaan penumpang.

Kapal cepat yang akan mengantarkan wisatawan menuju Pulau Tidore.
Sumber Foto: http://jumpandang.multiply.com
 
Untuk kapal feri, wisatawan perlu membayar biaya sebesar Rp3.500, sedangkan jika menggunakan kapal cepat wisatawan dikenai tarif Rp6.000. Kapal cepat biasanya lebih disukai oleh wisatawan karena waktu tempuh dan biayanya yang relatif murah. Perjalanan dari Ternate ke Tidore dengan kapal cepat hanya membutuhkan waktu sekitar 10 menit, sementara dengan kapal feri ditempuh dengan waktu sekitar 30 menit. Dari Pelabuhan Rum Tidore, Anda dapat menggunakan berbagai moda transportasi di pulau ini, seperti  mikrolet, becak motor, ojek, maupun mobil carteran untuk menuju Museum Sonyine Malige. Perjalanan dari pelabuhan menuju museum menempuh jarak sekitar 24 kilometer.

E. Harga Tiket

Hingga saat ini pengelola museum tidak menetapkan harga tiket bagi wisatawan. Dengan kata lain, wisatawan yang ingin melihat peninggalan-peninggalan sejarah Kesultanan Tidore hanya dikenai biaya sukarela.

F. Akomodasi dan Fasilitas Lainnya

Para pelancong yang singgah ke Pulau Tidore dapat memanfaatkan beberapa hotel dan losmen di pulau ini untuk menginap. Penginapan-penginapan tersebut umumnya terdapat di Jalan Sultan Hasanuddin Tidore. Berbagai makanan khas Tidore juga dapat dinikmati di warung makan-warung makan yang terdapat di jalan-jalan utama pulau ini.